Enter Header Image Headline Here

Jumat, 03 April 2015

RINDU DIATAS SALJU


Tepat puku 23.00 jam beker di kamarku berbunyi, bertubrukan dengan mp3 yang kuputar sejak tadi. Lantas kuraih benda kecil itu di atas meja belajar. Dan klik! Mati.


Entah sudah berapa kali 'Lembayung Bali' milik Saras Dewi menggema di ruang berukuran 4x3 ini. Sengaja memang setting repeat ku'of'kan, agar lagu ini yang terus berputar.

Jua, entah sudah berapa banyak air mataku menetes. Setelah sholat isya' tadi, air mata ini masih belum mau berhenti.
Duh Gusti, Seperti inikah rindu pada ukhuwah itu?

Aku bersujud, meluapkan semua keluh kesahku pada-Nya. Semakin lama, malah ia mengalir semakin deras. ALLAH, rintih hatiku.


Bersamaan dengan bulir air mata yang jatuh, kenangan itupun kembali menyeruak dalam benakku. Ya Rabb? Pedih sekali rasanya. Andai boleh meminta, mungkin akan lebih baik, jika aku dulu tak pernah mengenalnya.

Namun takdir Allah jauh lebih baik, meski terkadang tidak sedikit manusia menganggapnya buruk dan menyedihkan.

Tidak! Aku tidak menyesali perkenalan itu. Justru aku merasa sangat beruntung telah mengenalnya. Meskipun keadaan sekarang tak seindah awal perkenalan dulu.

Aku bahagia mengenalnya, bersyukur. Dia yang sedikit banyak merubah kehidupanku. Melalu dialah Allah mencurahkan hidayah-Nya padaku.
Ya, walau ukhuwah itu terjalin di atas jarak yang jauh. Aku ingin mengatakan ini padanya 'Ana Uhibbu fillah'

Terkadang diri ini merasa aneh dan asing merasakan kasih sayang itu. Ah, salahkah?


Harus bagaimana meluruhkan rindu itu, jika kenyataannya tak seindah dulu?
Terkadang memang mulut ini enggan berucap rindu, namun akankah hati bisa kubohongi? Aku rasa tidak.

Akalku mengatakan benci, kecewa, marah tetapi apakah hatiku mengatakan itu pula? TIDAK!
Sayang itu tetap ada. Tetap tumbuh, disini.

Aku lelah, setiap kali merindu yang ada bukan respon yang membahagiakan. Malah sebaliknya.
Aku tak menyalahkannya. Sangat maklum jika keadaanlah yang merubah semua itu.

Seperti merindu di oase salju. Dingin!.
Membuat diriku menggigil menahan dinginnya. Tak ada sesuatu yang memeluk hatiku kala rindu ini memuncak.

Aku tau, bukan aku saja yang merindu. Kaupun jua sama sepertiku.
Mungkin seperti inilah merindu dalam oase salju.
Yang dirindu ternyata menyuguhkan tangis yang tiada henti.

Kini akhirnya, jika memang tak ada celah lagi untuk seperti dulu, mungkin menjauh bisa mengikis rasa yang 'berlebih' ini...


INI YANG TERAKHIR!!!

0 komentar:

Posting Komentar

Ia menjauh dari rindu yang tak pernah pulang. Pergi, melepaskan

Popular Posts