Tentang Sebuah Rindu (lagi)
Di balik senja yang bergulir manja pada ufuk barat, menyemai sinar saga yang merona. Syam sebentar lagi akan bertukar tugas dengan bulan. Di saat itu pula, malaikat langit merekam percakapan dua bidadari bumi. Sebuah elegi rasa yang menghanyutkan para perasa.
"Bu, bolehkah aku bertanya sesuatu?" Gadis itu mendekat pada seorang ibu. Tatapannya mengharap belas kasih. Seakan kerinduan terpancar dari raut wajahnya.
Ibu paruh baya itu menjawab dengan senyuman, sembari tangannya membelai jilbab sang gadis.
"Tentu, Nak. Apa yang akan kautanyakan?" Senyum kembali mengembang. Anggun sekali senyum itu.
"Apakah rindu itu selalu ada ketika jarak membentangkan dua insan, Bu?" Ucap sang gadis lirih, penuh kehati-hatian.
Tangan ibu itu menyentuh dagu si gadis, pelan. Mendongakkannya ke atas. Sorot matanya indah, bulat bening. Memancarkan sebuah rasa penasaran yang besar.
"Rindu? Kau sedang merindukan seseorang, Nak?" Ibu itu menyelidik. Seketika wajah si gadis menunduk. Malu. Tak ada jawaban.
Hening menyergap keduanya. Hanya dentingan jam yang terdengar. Senyap.
"Rindu itu ibarat sebuah doa, Nak. Kau mampu merasakan saat berjauhan dengan seseorang. Namun wujudnya sulit kau jangkau kan? Kecuali pertemuan itu terwujud. Pun doa yang kaulantunkan dijawab oleh-Nya. Orang yang merindu terkadang hanya berpacu pada satu nama. Seperti kaumerindukan Sang Maha Cinta, merindukan pertemuan husnul khatimah. Di sana selalu ada jarak yang memisahkan keduanya." Sang ibu berkata lembut. Kasih sayang terpancar jelas di wajah tuanya.
"Lantas, bagaimana mengobati rindu itu, Bu?" Tanya si gadis lagi. Mata jelinya berpaut dengan wajah ibu itu. Ia berusaha menguak teka-teki yang sedang menjamah pikiran.
"Banyak cara, Nak. Setiap orang pun pasti berbeda mengekspresikan rasa rindu tersebut. Salah satunya; tuangkan pena rindumu pada secarik kertas. Biarkan ia menari gemulai di atasnya. Atau dengan cara yang paling ampuh, berdoalah. Doakan dia yang kaurindukan. Langsung tidak langsung, dia pasti akan merasakan."
"Aku merindukan seseorang, Bu. Tapi aku tidak tau nama dan rupanya. Setiap malam kurasakan getarnya, jelas berdetak di bilik jantung." Gadis itu mulai bercerita. Membagikan gejolak jiwa yang tengah ia rasakan.
"Kau tak tau namanya?"
"Ya, aku tak tau, Bu. Hanya angan-angan semu yang menyelimuti batas pikiranku saat aku mencoba menerjemahkan apa yang kurasa."
"Ia ada di sini dan di sini." Ibu itu menunjuk tepat di dada dan kepala.
"Jaga ia, Nak. Rapikan, jangan sampai merusak imanmu. Letakkan ia pada tempat yang tepat. Gantungkan semua harap pada Sang Maha Pemberi."
Si gadis mematung. Ia semakin tak mengerti. Ingin bertanya, namun pertanyaan itu seakan tertahan di tenggorokan.
"Kau sedang jatuh hati, Nak. Perihal siapa gerangan yang kau maksud, sejatinya hanya kau dan Dia yang tau saat ini. Jaga ia!" Ibu itu melangkah pergi, meninggalkan gadis seorang diri. Menatap syam yang beberapa detik lagi sempurna terlahap bumi.
Pertanyaan baru menggantung dalam benaknya. Namun, cukup saat ini biarlah tanya itu hanya dia yang tau. Nanti jika sudah tepat, waktu lah yang akan menjawab semuanya.

0 komentar:
Posting Komentar