PERTEMUAN
Sejak berdiri di sini beberapa menit yang lalu dan
sekarang ngobrol dengan kawan lama, aku tahu seseorang itu sedang berdiri pula
tak jauh dari tempatku ini. Mataku bisa melihatnya meski itu bukan pandangan
fokus. Sejak menuju tempat ini dan tahu seseorang itu berdiri di sana, degub
itu terasa, desir itu seakan menyisir setiap langkah, menaiki satu persatu anak
tangga. Aahhh...
Berdiri di atas balkon di depan kelas. Ramai-ramai, karena hampir semua alumni yang melanjutkan study ada di acara ini.
Berdiri di atas balkon di depan kelas. Ramai-ramai, karena hampir semua alumni yang melanjutkan study ada di acara ini.
Aku mengalihkan pandangan ke bawah, melihat satu
dua orang melintasi halaman sekolah. Seseorang itu melewatiku, dan berhenti
untuk menyapa teman sekamarku di tanah rantau. Ah, andaikan tadi berdiri di
sana, batinku protes. Seseorang itu menghilang, entah kemana. Luput dari
pandangan.
Aku masih memandang halaman bawah sembari
bercakap-cakap dengan kawan. Menceritakan dunia kampus, aku yang lebih banyak
mendengarkan. Sesekali balik bercerita atau tertawa mendengar cerita lucu mereka.
Dan saat itu, saat tak kusadari. Seseorang itu menepuk pundakku dengan gulungan
kertas. Aku membalikkan badan. Duuh... Seseorang itu.
"Hey, gimana kabarnya?" Dia tersenyum,
senyum khas yang memamerkan jejeran giginya.
"Alhamdulillah, kamu sendiri?"
"Hemm, alhamdulillah. Kapan pulang?"
"Sejak akhir Desember lalu."
"Heyyy, ayo cepetan!" Panggil seorang
perempuan di ujung balkon sana sambil melambaikan tangan ke arah seseorang yang
ada di depanku.
"Iya sek bentar." Ia memberi kode dengan
tangannya yang diangkat ke atas.
Duh, tu anak gak tahu apa, ini ada teman lama yang
lama gak ketemu. Ah, perempuan itu, aku tahu siapa dia. Kedekatan mereka masih
sama.
"Terus-terus..." Tanya seseorang di
depanku, berusaha mengembalikan pembicaraan tadi.
"Apanya yang terus?" Dia berubah seperti
tergesa-gesa.
"Kapan balik ke rantauan?"
"Tanggal 10an lah kayaknya. Tanggal 15 sudah
masuk."
"Eh sama, maksudnya masuknya. Tapi aku balik
tanggal 14 mungkin."
"Iyalah, deket situ. Aku mah jauh."
Dia tertawa kecil.
"Hehe.. Eh udah dulu ya, aku duluan."
"Hehe.. Eh udah dulu ya, aku duluan."
"Yaps, silakan."
Dan kata-kata terakhir, itu yang selalu dia ucapkan
entah di pesan atau bertemu langsung.
"Moga sukses."
"Aamiin, kamu juga."
'Ah Kenang, kau masih sama. Tak banyak berubah, dan
apa yang terpendam ini juga masih sama. Entah sampai kapan aku menyimpannya.
Harapan kecil itu masih menyala, semoga berakhir bahagia. Dan aku tahu, akhir
bahagia tak harus bersatu denganmu di sana. Bahkan, melihatmu bahagia itu juga
telah membuatku bahagia. Sungguh...'
M2P, 23/01/16
Pertemuan pertama, sejak perpisahan itu. Agustus tahun lalu.
Pertemuan pertama, sejak perpisahan itu. Agustus tahun lalu.

0 komentar:
Posting Komentar