Enter Header Image Headline Here

Selasa, 14 Juli 2015

Surat Mati

Surat Mati


Aku akan mengirimkan sebait sajak hambar.
Tanpa rasa, namun itulah sejujur-jujurnya yang kurasa.
Kemana?

Surat itu untukmu, namun kau tak pernah membacanya.
Menerimanya pun tidak.
Yaa, biarlah malaikat saja yang membaca.
Karena bagiku, setidaknya itu cukup meminimalisir rindu yang tertumpuk. Obat rindu yang tertahan.

Semua tentangmu, tentangku. Yang kutulis menjadi tentang kita. Maaf.

Lantas kemana kukirim surat itu?
E-mail. Aku tahu e-mailmu sudah tak kaugunakan lagi. Katamu, kau lupa kata sandinya.
Ke sanalah kukirim segala rasa yang menghampiri.
Karena mungkin inilah cara teraman menyampaikan gejolak rindu.

Tak masalah, kau diam dengan pertahananmu. Sebab, seperti itu pula yang kulakukan.
Baik-baik menjaga hati ya, Mas.
Siapa pun nanti yang akan menjadi makmummu, aku akan tersenyum melihatnya.


Dariku: yang mengagumimu dalam diam

0 komentar:

Posting Komentar

Ia menjauh dari rindu yang tak pernah pulang. Pergi, melepaskan

Popular Posts