Gadis dalam Penantian (1)
Sebuah yang terisnpirasi dari kisah nyata, namun belum berending. Hanaya Allah yang tahu endingnya kelak. saya beri judul
"Gadis Dalam Penantiannya"
*1
(Buku Catatan Itu)
Aku mengenalnya sejak empat tahun lalu di bangku SMP. Beruntung, di tahun terakhir bisa sekelas dengannya. Dia cerdas, tercerdas di sekolah kami. Mungkin, jika sejak kelas 1 kami sekelas, kagum ini sudah lahir lebih lama.
"Ini buku catatannya siapa Rin?" Tanyaku pada teman sebangku.
"Anak paling pinter di kelas sebelah." Jawabnya singkat padat jelas.
Siapa? Batinku bertanya.
Tulisannya rinci indah, rapi, setengah latin tapi bukan latin. Mulai itulah aku mengenalnya. Ya walau mengenal dari tulisan tangannya.
Kubuka lembar paling depan, mencari nama pemilik buku ini. Dan tertulislah di sana;
Nama: Reza Eka Prasetya
Kelas: VIII A
Sekolah: SMPN 1 Ponorogo
Ooh, aku manggut-manggut dalam hati. Tapi beneran, keren banget tulisan tangannya. Duh jadi malu, aku yang perempuan aja kalah. Jauh beda malah. Menulis adalah pekerjaan yang tidak kusukai. Bagiku melelahkan. Menulis di sini dalam artian tulisan tangan, bukan menulis cerita ataupun puisi. Kalau itu sih hobi terpendamku. Ckck.
Bahkan saat di bangku SMA, ada beberapa temanku yang dengan jelas mengatakan tulisan tanganku jelek. Yah, mau gimana lagi, emang kenyataannya gitu.
"An, tulisanmu itu agak rapi dikit lah. Cewek tulisannya kayak 'cekeran' ayam gitu."
Duh dikatain gitu aku gak marah sih, nylekit sih iya, tapi emang kenyataannya gitu.
"Haha, tulisanku emang gini. Terserah orang lain bisa baca atau gak, yang penting aku bisa." Jawabku enteng, seenteng kapas terbang tertiup angin. Cieeeh.
Dan di bangku SMA pula kebiasaan burukku tumbuh. Aku malas mencatat. Ssst... Ini aib. Wkwk
Ya, aku tidak suka mencatat. Aku lebih suka mendengarkan penjelasan guru, lalu setelah guru menyuruh menyalin tulisan di whiteboard, aku malah mengerjakan soal yang ada di buku. Hihi, mencatat itu melelahkan.
Kalaupun aku mencatat itu hasil tulisannya ya ala kadarnya. Selama aku masih bisa membacanya, ya seperti itu tulisan tanganku.
*2
(Lelaki Jenius)
Sebatas pujian yang terlontar dalam hati, tentang tulisan tangannya yang indah. Tentang pemilik buku catatan itu? Entahlah, aku belum mengenalnya langsung. Jarang sekali saat istirahat melihat dia keluar kelas. Yah, maklumlah anak pinter. Kerjaannya pasti pacaran mulu sama buku. Ckck.
*3
(Kelas NaClorida)
Kelas baru, teman baru. Otomatis aku harus berbaur dengan orang-orang baru. Tidak gampang untukku, aku tidak mudah dekat dengan orang baru.
Ini program baru di sekolah kami, guru menamai kelas kami dengan sebutan kelas unggulan. Keluaran perdana dengan fasilitas apa adanya. Sama dengan kelas regular lainnya, yang membendakan guru-guru pengajarnya.
Jumlah siswanya 20 anak, 5 dari anak laki-laki dan 15 anak perempuan. Ganjil. Dan akulah yang awal-awalnya tidak punya teman sebangku. Hiks, menyedihkan. Tapi seminggu kemudian ada teman (sekarang menjadi sahabat) yang menjadi teman sebangkuku. Namanya Nurma.
Proses mengajar begitu sepi, maklumlah semua siswa tampangnya tampang serius, pemikir. Haha. Bahkan ada guru yang berkomentar tentang kelas kami, katanya kelas A ini seperti kuburan. Sepi, anak-anaknya kaku.
Awal-awal memang begitu, tapi lama-kelamaan juga sering guyonan. Mereka asyik. Dan kutemukan teman yang lucu, namanya Fitri. Dia pintar berbahasa inggris, aktif di dalam pramuka, pintar bercerita. Dan akulah salah satu pendengar setianya.
Pernah Fitri ini bercerita tentang Reza. Diam-diam sih Fitri juga mengagumi kepandaian Reza.
"Kau tahu An? Kemarin saat kemah di Buper Telaga Sarangan, ada kejadian yang sulit kulupakan," katanya dengan antusias dan wajah yang sumringah.
"Iya kah? Apa Fit?" Jawabku sekenanya. Aku fokus melihat teman yang main basket di lapangan.
"Aku sama Reza,"
Reza? Aku membatin
"Gini ceritanya, kan sore-sore hujan tuh. Reza nglihat aku lagi kehujanan. Datanglah ia membawa payung, lalu memayungiku. Kita berjalan bersama dalam satu payung. So sweet kan? Dan kau tahu? Salah satu tangannya menggandeng pundakku, An. Aduuh, gak nyangka kan kamu?"
What? Iyakah? Reza berani seperti ini? Suer, hampir gak percaya denger cerita Fitri kali ini.
"Hallah, masa sih Reza berani kayak gitu? Gak percaya aku Fit."
"Loh beneran An. Diem-diem dia romantis juga lho, padahal di kelas serius banget tu anak."
Entahlah, itu nyata atau hanya karangan Fitri saja. Sampai sekarang pun masih menjadi tanda tanya.
Lepas dari itu, di kelas kami pun sering berdiskusi bersama. Reza lah yang menjadi rujukan pertama dan utama. Dia masternya mapel eksax, Hihi.
Aku lebih banyak menyimak ketika Reza menjelaskan cara mengerjakan soal. Lagi-lagi, dalam satu diskusi bertemu dengan Fitri. Ya iyalah, kami kan sekelas. Kadang aku menyimak juga guyonan antara Reza dan Fitri. Fitri anaknya asyik, pintar buat orang lain tertawa.
Ya begitulah. Kedekatanku dengan Reza mulai terbangun dari kelas NaClorida. Ternyata setelah kenal langsung dengan Reza, tak seperti yang ada di pikiranku dulu. Dia juga suka guyon, anaknya supel, ramah, tidak pelit ngajarin temannya. Memang sih kalau belum mengenalnya pasti mengira Reza ini kaku, seriusan, tapi tidak. Dia akan dekat dengan orang yang sudah dikenalnya.
Kenapa namanya kelas NaClorida?
***Bersambung...
"Gadis Dalam Penantiannya"
*1
(Buku Catatan Itu)
Aku mengenalnya sejak empat tahun lalu di bangku SMP. Beruntung, di tahun terakhir bisa sekelas dengannya. Dia cerdas, tercerdas di sekolah kami. Mungkin, jika sejak kelas 1 kami sekelas, kagum ini sudah lahir lebih lama.
"Ini buku catatannya siapa Rin?" Tanyaku pada teman sebangku.
"Anak paling pinter di kelas sebelah." Jawabnya singkat padat jelas.
Siapa? Batinku bertanya.
Tulisannya rinci indah, rapi, setengah latin tapi bukan latin. Mulai itulah aku mengenalnya. Ya walau mengenal dari tulisan tangannya.
Kubuka lembar paling depan, mencari nama pemilik buku ini. Dan tertulislah di sana;
Nama: Reza Eka Prasetya
Kelas: VIII A
Sekolah: SMPN 1 Ponorogo
Ooh, aku manggut-manggut dalam hati. Tapi beneran, keren banget tulisan tangannya. Duh jadi malu, aku yang perempuan aja kalah. Jauh beda malah. Menulis adalah pekerjaan yang tidak kusukai. Bagiku melelahkan. Menulis di sini dalam artian tulisan tangan, bukan menulis cerita ataupun puisi. Kalau itu sih hobi terpendamku. Ckck.
Bahkan saat di bangku SMA, ada beberapa temanku yang dengan jelas mengatakan tulisan tanganku jelek. Yah, mau gimana lagi, emang kenyataannya gitu.
"An, tulisanmu itu agak rapi dikit lah. Cewek tulisannya kayak 'cekeran' ayam gitu."
Duh dikatain gitu aku gak marah sih, nylekit sih iya, tapi emang kenyataannya gitu.
"Haha, tulisanku emang gini. Terserah orang lain bisa baca atau gak, yang penting aku bisa." Jawabku enteng, seenteng kapas terbang tertiup angin. Cieeeh.
Dan di bangku SMA pula kebiasaan burukku tumbuh. Aku malas mencatat. Ssst... Ini aib. Wkwk
Ya, aku tidak suka mencatat. Aku lebih suka mendengarkan penjelasan guru, lalu setelah guru menyuruh menyalin tulisan di whiteboard, aku malah mengerjakan soal yang ada di buku. Hihi, mencatat itu melelahkan.
Kalaupun aku mencatat itu hasil tulisannya ya ala kadarnya. Selama aku masih bisa membacanya, ya seperti itu tulisan tanganku.
*2
(Lelaki Jenius)
Sebatas pujian yang terlontar dalam hati, tentang tulisan tangannya yang indah. Tentang pemilik buku catatan itu? Entahlah, aku belum mengenalnya langsung. Jarang sekali saat istirahat melihat dia keluar kelas. Yah, maklumlah anak pinter. Kerjaannya pasti pacaran mulu sama buku. Ckck.
"An, temenin aku ke sanggar pramuka yuk?" Ajak seorang teman padaku. Di sekolah aku termasuk anak yang pendiam. Gak ikut-ikut organisasi seperti OSIS, ataupun pramuka. Imbasnya sekarang sedikit susah bersosialisasi dengan orang baru. Hhi.
"Iya ayo." Jawabku singkat.
Setibanya di sanggar, kulihat anak laki-laki duduk di atas tumpukan tongkat. Tangannya membawa buku yang terbuka, dan ia sedang membacanya.
Waw, kembali pujian itu terlontar lagi untuknya. Hanya dalam batin. Siapa lagi kalau bukan Reza. Reza ... Reza, kau memang cerdas kawan.
Bukan novel bukan pula komik, melainkan buku pelajaran. Buku SKI(Sejarah Kebudayaan Islam) yang ia baca. Saat teman-temannya sedang bercanda, ngobrol sana sini, atau mungkin ada yang sedang jajan di kantin, ia malah tepekur belajar. Membaca buku pelajar. Dua jempol untukmu Ray, eh Reza.
Saat itupun kami belum saling mengenal, aku hanya melihatnya dari gawang pintu sanggar. Tidak ada perasaan aneh, hanya pujian yang tersemat dalam dada.
***
Tahun ajaran baru datang. Tahun ini kurikulum sekolah berubah. Biasanya setiap tahun tidak ada perubahan kelas, kali ini ada. Yang dulunya, anak yang memiliki nilai akademis bagus dibagi di setiap kelasnya, tetapi tahun ini dihimpun dalam satu kelas. Tidak menyangka, aku masuk di dalamnya. Alhamdulillah. Semakin merasa kerdil saja berada di antara anak-anak yang lebih pandai. Huhu.
Dan dari kelas baru itulah aku bisa mengenalnya langsung. Ya, aku satu kelas dengannya. Dengan anak yang paling pintar di sekolahku. Hmm, senangnya.."Iya ayo." Jawabku singkat.
Setibanya di sanggar, kulihat anak laki-laki duduk di atas tumpukan tongkat. Tangannya membawa buku yang terbuka, dan ia sedang membacanya.
Waw, kembali pujian itu terlontar lagi untuknya. Hanya dalam batin. Siapa lagi kalau bukan Reza. Reza ... Reza, kau memang cerdas kawan.
Bukan novel bukan pula komik, melainkan buku pelajaran. Buku SKI(Sejarah Kebudayaan Islam) yang ia baca. Saat teman-temannya sedang bercanda, ngobrol sana sini, atau mungkin ada yang sedang jajan di kantin, ia malah tepekur belajar. Membaca buku pelajar. Dua jempol untukmu Ray, eh Reza.
Saat itupun kami belum saling mengenal, aku hanya melihatnya dari gawang pintu sanggar. Tidak ada perasaan aneh, hanya pujian yang tersemat dalam dada.
***
Tahun ajaran baru datang. Tahun ini kurikulum sekolah berubah. Biasanya setiap tahun tidak ada perubahan kelas, kali ini ada. Yang dulunya, anak yang memiliki nilai akademis bagus dibagi di setiap kelasnya, tetapi tahun ini dihimpun dalam satu kelas. Tidak menyangka, aku masuk di dalamnya. Alhamdulillah. Semakin merasa kerdil saja berada di antara anak-anak yang lebih pandai. Huhu.
*3
(Kelas NaClorida)
Kelas baru, teman baru. Otomatis aku harus berbaur dengan orang-orang baru. Tidak gampang untukku, aku tidak mudah dekat dengan orang baru.
Ini program baru di sekolah kami, guru menamai kelas kami dengan sebutan kelas unggulan. Keluaran perdana dengan fasilitas apa adanya. Sama dengan kelas regular lainnya, yang membendakan guru-guru pengajarnya.
Jumlah siswanya 20 anak, 5 dari anak laki-laki dan 15 anak perempuan. Ganjil. Dan akulah yang awal-awalnya tidak punya teman sebangku. Hiks, menyedihkan. Tapi seminggu kemudian ada teman (sekarang menjadi sahabat) yang menjadi teman sebangkuku. Namanya Nurma.
Proses mengajar begitu sepi, maklumlah semua siswa tampangnya tampang serius, pemikir. Haha. Bahkan ada guru yang berkomentar tentang kelas kami, katanya kelas A ini seperti kuburan. Sepi, anak-anaknya kaku.
Awal-awal memang begitu, tapi lama-kelamaan juga sering guyonan. Mereka asyik. Dan kutemukan teman yang lucu, namanya Fitri. Dia pintar berbahasa inggris, aktif di dalam pramuka, pintar bercerita. Dan akulah salah satu pendengar setianya.
Pernah Fitri ini bercerita tentang Reza. Diam-diam sih Fitri juga mengagumi kepandaian Reza.
"Kau tahu An? Kemarin saat kemah di Buper Telaga Sarangan, ada kejadian yang sulit kulupakan," katanya dengan antusias dan wajah yang sumringah.
"Iya kah? Apa Fit?" Jawabku sekenanya. Aku fokus melihat teman yang main basket di lapangan.
"Aku sama Reza,"
Reza? Aku membatin
"Gini ceritanya, kan sore-sore hujan tuh. Reza nglihat aku lagi kehujanan. Datanglah ia membawa payung, lalu memayungiku. Kita berjalan bersama dalam satu payung. So sweet kan? Dan kau tahu? Salah satu tangannya menggandeng pundakku, An. Aduuh, gak nyangka kan kamu?"
What? Iyakah? Reza berani seperti ini? Suer, hampir gak percaya denger cerita Fitri kali ini.
"Hallah, masa sih Reza berani kayak gitu? Gak percaya aku Fit."
"Loh beneran An. Diem-diem dia romantis juga lho, padahal di kelas serius banget tu anak."
Entahlah, itu nyata atau hanya karangan Fitri saja. Sampai sekarang pun masih menjadi tanda tanya.
Lepas dari itu, di kelas kami pun sering berdiskusi bersama. Reza lah yang menjadi rujukan pertama dan utama. Dia masternya mapel eksax, Hihi.
Aku lebih banyak menyimak ketika Reza menjelaskan cara mengerjakan soal. Lagi-lagi, dalam satu diskusi bertemu dengan Fitri. Ya iyalah, kami kan sekelas. Kadang aku menyimak juga guyonan antara Reza dan Fitri. Fitri anaknya asyik, pintar buat orang lain tertawa.
Ya begitulah. Kedekatanku dengan Reza mulai terbangun dari kelas NaClorida. Ternyata setelah kenal langsung dengan Reza, tak seperti yang ada di pikiranku dulu. Dia juga suka guyon, anaknya supel, ramah, tidak pelit ngajarin temannya. Memang sih kalau belum mengenalnya pasti mengira Reza ini kaku, seriusan, tapi tidak. Dia akan dekat dengan orang yang sudah dikenalnya.
Kenapa namanya kelas NaClorida?
***Bersambung...

0 komentar:
Posting Komentar