Enter Header Image Headline Here

Selasa, 14 Juli 2015

Bait-bait Cinta Nayyara



Aku malu-malu menatapmu. Ini pertemuan yang pertama sejak perpisahan lima tahun silam. Kau masih seperti dulu, Kak. Senyum simpulmu begitu meneduhkan, walau kenyataannya aku setengah mati menahan degub ini.
Keringat dingin mengucur di sekujur tubuh, termasuk di telapak tanganku. Ini tidak akan terjadi jika aku tidak berada pada keadaan yang menegangkan. Dag dig dug jantungku terpompa.

Kak, kau tahu? Rasa itu masih sama. Masih terjaga. Justru lebih mendebarkan dari lima tahun yang lalu.
Aku selalu begini, saat berada dekat denganmu otomatis mulutku terkunci. Lebih baik diam daripada bertanya, barang hanya basa-basi.
Ah Kak, baru kusadari menulis pertanyaan di pesan jauh lebih mudah ketimbang bertanya langsung padamu.

Kuberikan ruang untukmu untuk menyapa, jika pun kau tak berani. Mungkin kau sedang menyiapkannya, atau kau juga sama sepertiku. Entahlah..

"Yara?" Kau mulai membuka percakapan.
"Ya Kak?" jawabku singkat.
"Bagaimana kuliahmu?" Aih peduli juga padaku, Kak. Senang.
"Lancar Kak, alhamdulillah. Skripsi Kakak bagaimana?"
"Hampir finis. Doakan ya semoga segera sidang, dan wisuda." Kau menatap lembayung senja di ujung pandang.
"Aamiin, ya Kak. Selalu."

Siapa yang mengira dengan pertemuan ini. Pertemuan yang amat kurindukan. Ternyata Allah mengabulkan doaku, saat harap mulai mati membeku.
Kak, apakah kau juga menantikan pertemuan ini? Sepintas aku menangkap desir dari tatapanmu. Iyakah?

Kak sedikit pun aku tak berani mengucapkan sayang. Itu bukan kuasaku. Jika pun itu terucap, maka aku telah menodai cinta ini, Kak. Bagaimana denganmu Kak? Aku tak mau berasumsi yang tidak-tidak, atau bahkan di luar logika. Ya, jika pun kau memiliki rasa yang sama, kau tak akan mengatakan cinta sendirian. Kau pasti datang menemui Bapak bersama keluargamu. Aku kenal lama denganmu, meski tak sedekat dulu. Dan kau sosok pemberani, pantang menyerah.

Kak, apakah hatimu telah dimiliki yang lain?

"Setelah wisuda, lanjut S2 kah atau kerja Kak?" Aku membuyarkan keheningan.
"Kerja Ra, jika ada rizki ingin melanjutkan."
Duh, Kakak yang masih sangat haus ilmu. Hatiku mengucap kagum.

"Tidak kah ingin membangun sesuatu untuk bekal bahagia dunia akhirat?"

Ssst, apa yang kutanyakan tadi. Ya Rabb, terlalu lancang kah?

"Menikah maksud Yara?" Aku diam sejenak. Lalu mengangguk pelan.

"Haha, jika sudah saatnya itu pasti Ra. Biarlah saat ini, Kakak fokus dengan kebahagiaan keluarga."

Sempurna, hatiku meleleh mendengar jawabannya. Dia begitu menyayangi keluarga, bahkan melupakan tentang hatinya. Ah bukan melupakan. Lebih tepatnya membiarkan dulu.

Duh Kak, beruntung sekali wanita yang mendampingimu nanti.

Dan senja kala itu, membuat kuncup rindu sempurna mekar di hati dua sejoli. Raihan dan Nayyara.

***

22/04/2019

"Saya terima nikahnya Nayyara Adzkia binti Abdul Hadi dengan maskawin tersebut dibayar tunai."

Satu tetes jatuh di pangkuanku. Beribu-ribu kali mengucap syukur dalam hati. Aku memeluk Teteh dengan segenap bahagia. Allah, terimakasih.

Lalu Teteh menuntunku menuju ruang utama. Duduk bersanding dengan lelaki yang telah sah menjadi imamku, Kak Raihan. Dengan takzim, aku mencium tangannya.

Allah, sungguh bahagianya aku. Kak, akulah wanita yang beruntung itu. Terimakasih atas semuanya.

***

Tawa riang balita di pangkuanku membuat hatiku bahagia. Teramat bahagia. Film singkat yang kembali terputar dalam kenangan itu membuat aku tak bosan mengulangnya. Ya, balita itu mujahidku bersama Kak Raihan, umurnya 15 bulan. Lincah-lincahnya berjalan. Celotehnya juga sangat menghibur kami. Namanya, Muhammad Farhan Abdillah.

Allah, jaga keluarga kami. Satukan kami dalam Jannah-Mu. Sungguh tiada yang paling berharga kecuali keluarga kecilku ini.

Kak Raihan, terimakasih telah menjadikanku Bidadari dalam kerajaan cintamu. Tuntun aku menuju Bidadari surgamu.

Farhan, terimakasih telah membuat Umi dan Abi bahagia karena kehadiranmu. Tumbuhlah dengan cerdas seperti Abimu, dan miliki akhlaq karimah yang menghiasi Jiwamu. Nang, bahagialah bersama Abi dan Umi hingga nanti, Jannah menanti kita.

*Ponorogo, 16/05/2015


*fiksi

0 komentar:

Posting Komentar

Ia menjauh dari rindu yang tak pernah pulang. Pergi, melepaskan

Popular Posts